Solo Kampung Art 2011

Jumat, 24 Juni 2011



Setelah sukses di tahun pertama penyelenggaraannya, Solo Kampung Art kembali digelar untuk kali kedua.  Mengusung tema Warna-warni Kampungku, festival seni yang banyak menghadirkan tontonan rakyat ini akan melibatkan 50 personel.
Untuk mensosialisasikan acara ini,  Selasa (14/6) siang, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong berputar keliling kampung menggunakan andong ke sekitar Monumen Banjarsari, tempat berlanghsungnya berbagai pertunjukkan.
“Solo Kampung Art 2011 ini merupakan event kedua dari pelaksanaan Solo Kampung Art. Acara ini akan digelar 16-19 Juni esok dan temanya masih sama dengan tahun lalu yakni Warna-warni Kampungku,” tutur Hanindawan, ketua panitia Warna-warni Kampungku kepada awak media di Monumen Banjarsari, Solo, Selasa (14/6).
Diungkapkan Hanindawan, dalam pembukaan Solo Kampung Art nanti akan digelar tarian berjudul Boyong PKL yang telah dikreo sedemikian rupa. Tarian yang menggambarkan prosesi boyongan para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berlangsung damai tanpa kekerasan ini akan dibawakan  Putra Putri Solo (PPS).
“Tarian Boyong PKL ini merupakan pertunjukan yang spesial karena tarian ini akan mengingatkan peristiwa boyong PKL beberapa  waktu lalu. Tarian ini akan dibawakan oleh kurang lebih 50 penari, di antaranya dari PPS. Mereka akan menari dengan membawa barang-barang second. Acara juga akan dimeriahkan oleh para waria,” paparnya.
Selain pentas seni, Solo Kampung Art juga diisi dengan bazar yang menampilkan potensi dari kampung atau kelurahan yang ada di Solo. Kegiatan ini digelar di Monumen Banjarsari mulai pukul 15.00-21.30 WIB.
“Dalam Warna-warni Kampungku ini juga akan dimeriahkan dengan pertunjukan karawitan, keroncong, tari-tarian, hadrah, ketoprak, wayang orang, wayang kulit. Dengan demikian kami berusaha untuk mengakomodasi semua keberagaman yang ada,” tukasnya.
Dipilihnya Monumen Banjarsari bukan tanpa alasan. Banjarsari dinilai sangat tepat karena diapit oleh empat jalan besar yang di tengahnya sering dijadikan sebagai tempat berkumpul. “Mengapa kami memilih Banjarsari karena pertama kali peristiwa boyong PKL berasal dari sini. Dan Monumen ini juga merupakan ruang publik yang inti, nyaman, serta digunakan sebagai ruang pertemuan Kota Solo,” jelas Hanindawan.

0 komentar:

Posting Komentar