Kirab Budaya Asean Para Games

Jumat, 16 Desember 2011

Pesta olah raga untuk penyandang cacat Asia Tenggara (ASEAN Para Games) keenam yang diselenggarakan di Kota Solo, diawali dengan kirab budaya pada Rabu (14/12) kemarin. Sejumlah perempuan berbusana karnaval memeriahkan Kirab Budaya ASEAN Paragames (APG) VI di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah.1.300 Seniman mengiringi 11 kontingen yang siap berlaga mulai 12-22 Desember. Rancak musik tradisional mewarnai iring-iringan kirab dari Lapangan Kota Barat menuju Balaikota Surakarta. Menpora Andi Mallarangeng dan Walikota Surakarta Joko Widodo menjadi cucuk lampah kirab dengane berkuda. Pesta Olah Raga penyandang disabilitas se-Asia Tenggara tersebut dijadwalkan akan dibuka pada Kamis (15/12), dan diikuti atlet dari 11 negara yang akan berkompetisi dalam 11 cabang Olah Raga.

Sebelum dikirab, obor api abadi dari Mrapen, Grobogan ini diserahkan Duta Obor Bolo Triono kepada Ketua KONI Surakarta Sumartono Hadinoto. Bolo merupakan atlet peraih medali emas APG V di Kuala Lumpur, Malaysia. Api obor ini diarak menuju Lapangan Kota Barat secara estafet di lima titik.
Penyerahan Obor kepada Walikota Jokowi, disaksikan Menpora Andi Mallarangeng.





 



Meski harus menempuh jarak tiga kilometer, namun atlet dan ofisial dari 11 negara peserta tidak terlihat lelah. Mereka bersemangat melambaikan bendera kebangsaannya kepada warga Solo yang sangat antusias menyambutnya. Warga mulai menyemut di sepanjang jalur yang dilewati sejak pukul 13.30 WIB. Padahal, rombongan baru tiba di titik start pukul 15.30 WIB. Selama satu jam lebih kelompok seni tersebut unjuk kebolehan di hadapan Menpora yang berada di panggung kehormatan depan Sriwedari.









Kreasso 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Opening Ceremony Kreatif Anak Sekolah Solo (Kreasso) 2011dihelat Minggu (19/6) malam. Walikota Solo Joko Widodo pun membuka kegiatan tahunan tersebut dengan membunyikan lonceng raksasa.
Ribuan pelajar dari puluhan sekolah tingkat SD hingga SMA berbagai kota, beradu kreativitas di Solo. Mereka mengikuti acara bertajuk Kreatif Anak Sekolah Solo (Kreasso) 2011. Ajang kreativitas bertemakan “Merajut Anak Nusantara” ini berlangsung tiga hari dari Minggu (19/6) hingga Selasa (21/6).
Acara dibuka oleh Wali Kota Surakarta Joko Widodo Minggu malam. Dalam sambutannya, Wali Kota mengatakan bahwa Kreasso memiliki konsep untuk menunjukkan prestasi para siswa di Solo kepada masyarakat. Pembukaan berlangsung meriah dan dihadiri ribuan warga. Beberapa pertunjukan memeriahkan acara pembukaan, termasuk band kreatif pelajar SLB A YAAT Klaten.


Menurut panitia, Kreasso 2011 diikuti ribuan siswa dari 26 sekolah tingkat SD hingga SMU. Di sini kreativitas siswa ditampilkan dalam bentuk seni dan teknologi. Sekolah yang menampilkan seni pertunjukan, dibatasi waktu maksimal 15 menit dengan jumlah peserta minimal 15 orang. Berbagai seni kreatif yang ditampilkan antara lain karawitan, tari kuda, reog, musik etnik, hingga teater berbahasa Inggris.

Solo Kampung Art 2011



Setelah sukses di tahun pertama penyelenggaraannya, Solo Kampung Art kembali digelar untuk kali kedua.  Mengusung tema Warna-warni Kampungku, festival seni yang banyak menghadirkan tontonan rakyat ini akan melibatkan 50 personel.
Untuk mensosialisasikan acara ini,  Selasa (14/6) siang, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong berputar keliling kampung menggunakan andong ke sekitar Monumen Banjarsari, tempat berlanghsungnya berbagai pertunjukkan.
“Solo Kampung Art 2011 ini merupakan event kedua dari pelaksanaan Solo Kampung Art. Acara ini akan digelar 16-19 Juni esok dan temanya masih sama dengan tahun lalu yakni Warna-warni Kampungku,” tutur Hanindawan, ketua panitia Warna-warni Kampungku kepada awak media di Monumen Banjarsari, Solo, Selasa (14/6).
Diungkapkan Hanindawan, dalam pembukaan Solo Kampung Art nanti akan digelar tarian berjudul Boyong PKL yang telah dikreo sedemikian rupa. Tarian yang menggambarkan prosesi boyongan para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berlangsung damai tanpa kekerasan ini akan dibawakan  Putra Putri Solo (PPS).
“Tarian Boyong PKL ini merupakan pertunjukan yang spesial karena tarian ini akan mengingatkan peristiwa boyong PKL beberapa  waktu lalu. Tarian ini akan dibawakan oleh kurang lebih 50 penari, di antaranya dari PPS. Mereka akan menari dengan membawa barang-barang second. Acara juga akan dimeriahkan oleh para waria,” paparnya.
Selain pentas seni, Solo Kampung Art juga diisi dengan bazar yang menampilkan potensi dari kampung atau kelurahan yang ada di Solo. Kegiatan ini digelar di Monumen Banjarsari mulai pukul 15.00-21.30 WIB.
“Dalam Warna-warni Kampungku ini juga akan dimeriahkan dengan pertunjukan karawitan, keroncong, tari-tarian, hadrah, ketoprak, wayang orang, wayang kulit. Dengan demikian kami berusaha untuk mengakomodasi semua keberagaman yang ada,” tukasnya.
Dipilihnya Monumen Banjarsari bukan tanpa alasan. Banjarsari dinilai sangat tepat karena diapit oleh empat jalan besar yang di tengahnya sering dijadikan sebagai tempat berkumpul. “Mengapa kami memilih Banjarsari karena pertama kali peristiwa boyong PKL berasal dari sini. Dan Monumen ini juga merupakan ruang publik yang inti, nyaman, serta digunakan sebagai ruang pertemuan Kota Solo,” jelas Hanindawan.

Festival Tirtonadi

Jumat, 01 April 2011

 
Satu lagi pagelaran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Solo, Festival Tirtonadi yang diselenggarakan tanggal 19 Maret 2011 kemarin. Festival yang semula yang rencananya digelar di sebuah ‘pulau kecil’ Sungai Kalianyar akhirnya harus berpindah tempat menyusul hujan deras mengguyur Kota Solo.Sebuah pagelaran seni budaya berupa tari,seni lukis dan seni instalasi bertema air. Dalam Festival Tirtonadi 2011 ditampilkan seni kolaborasi berjudul Jarik (Kain Batik Khas Solo).

Hujan yang deras menyebabkan debit air di Sungai Kalianyar meninggi. Meski tampak di sana sebuah layar dibentangkan di atas dataran kecil sungai tersebut, namun terobosan seni akhirnya urung dilaksanakan mengingat kondisi yang tak memungkinkan.

Meskipun akhirnya berpindah tempat, antusiasme warga Solo terutama penduduk sekitar terminal Tirtonadi tetap tinggi. Ratusan warga tetap memadati taman tersebut meski hujan rintik-rintik terus membasahi hingga pagelaran selesai.

"Pesan dari seni kolaborasi ini adalah bagaimana kita mencari identitas kita karena identitas itu penting. Ketika kita kehilangan identitas, kita kehilangan akal dan banyak hal,”ujar  sutradara ‘Jarik’, Djarot Budi Darsono.
Identitas dalam pagelaran tersebut disimbolisasikan dengan jarik. Alasan Djarot dalam memilih lambang tersebut karena jarik memiliki history yang berharga mengingat kisah perjalanannya dari tahun ke tahun dan telah menjelma menjadi salah satu identitas Bangsa Indonesia terutama warga Solo.
Dalam pagelaran kali ini, Djarot menampilkan 200 seniman termasuk tabuhan pengiring dari kelompok karawitan Sawo Jajar. Ia menyebut pagelarannya adalah seni kolaborasi karena para pemainnya memiliki latar belakang atau background dan asal yang berbeda-beda.

Dari 200 seniman tersebut, terdapat diantaranya berasal dari Studio Taksu, Kelompok Black Rider Art Community, Ketoprak Ngapung, dan yang paling mengesankan adalah kelompok masyarakat Minapadi yang merupakan penduduk sekitar Taman Tirtonadi.

Sebelum festival ini digelar telah di selenggarakan Wilujengan agar festival ini berlabgsung sukses. Wilujengan diawali dengan peletakan sejumlah sesaji di lokasi gundukan tanah atau pulau kecil di tengah sungai Kalianyar. Sesaji tersebut dibawa oleh seorang warga dengan menyeberangi sungai berarus deras tersebut. Meski dengan perjuangan keras, berkat kehati-hatiannya, pembawa sesaji pun akhirnya sampai di lokasi pulau kecil tersebut. Setelah peletakan sesaji, acara wilujengan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa bersama ini dilakukan sebagai permohonan agar segala niat baik mereka untuk mengembalikan roh taman Tirtonadi bisa berlangsung dengan baik dan lancar.

Pasar Tradisonal di Kota Solo

Rabu, 30 Maret 2011

1. Pasar Klewer

Pasar Klewer pada awalnya dinamakan pasar Slompretan. Letaknya di sebelah selatan alun-alun utara, sebelah selatan Masjid Agung. Dahulu tempat itu dipergunakan untuk menyimpan dan berhentinya kereta. Pada pendudukan Jepang, tempat itu dipergunakan untuk berdagang bagi kalangan miskin yang tidak punya tempat berjualan. Para pedagang menawarkan dagangannya dengan disampirkan di bahu, sehingga tampak berkeleweran di pinggir jalan, maka pasar ini disebut Pasar Klewer.

Pada masa sekarang ini, Pasar Klewer merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di kota surakarta, di pasar ini didominasi perdangangan busana, mulai dari batik hingga fashion anak muda yang “gaul” bila meminjam instilah pada jaman sekarang ini.,selain itu pernak pernik khas solo dan segala makananan dijajakan disana,letak yang strategis yaitu dipusat kota Solo dan berdekatan dengan bangunan bersejarah dan pusat budaya yaitu Kraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung menjadikan pasar klewer menjadi salah satu pusat aktivitas warga Solo sehingga tak heran jalan-jalan disekita pasar klewer tak pernah sepi dari hiruk pikuk jalan. Pasar Klewer dibangun pada tahun 1970, dalam perkembangannya pasar Klewer menunjukkan perkembangan yang cukup mencengangkan, sekarang ini jumlah transaksi keseluruhan pada tiap harinya menjapai 5 - 6 Milyar Rupiah, wow angka yang cukup fantastis bukan… tak heran Pasar Klewer kini menjadi pasar Textile terbesar di Jawa Tengah. pasar Klewer merupakan salah satu sumber pemasukan daerah yang tidak main main, pasar tersebut pertahunnya turut menyumbang Rp. 3 Milyar Jumlah pendapatan retribusi tersebut telah hamper memenuhi 5% dari RAPBD Kota Surakarta tahun 2004. Sungguh pantas kalau Pasar Klewer Merupakan salah satu Icon Pariwisata kota surakarta, karena terbukti hingga sekarang pasar Klewer Merupakan alternatif tempat yang dikunjungan para wisatawan.

2. Pasar Gede
Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gede mulanya merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang berubah fungsi menjadi Balaikota Surakarta. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Bangunan pasar selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhé Hardjanagara. Pasar ini diberi nama pasar gedhé atau “pasar besar” karena terdiri dari atap yang besar. Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar gede terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gedhé dalam bahasa Jawa.

Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Lalu Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Surakarta kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Namun perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

Pasar Gede terletak di seberang Balaikota Surakarta pada jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pasar Gede di perkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong dan terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak yang keturunan Tionghoa pula. Budayawan Jawa ternama dari Surakarta Go Tik Swan yang seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar K.R.T. (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.

Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan.





3. Pasar Nusukan
Pasar Nusukan yang terletak dijalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta ini didirikan pada tahun 1958. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, pada tahun 1986 ada perubahan luas lahan dari hasil pembebasan tanah kantor Kelurahan dan Gedung Bioskop Nusukan. Pada tahun 2004 Pasar Nusukan mengalami musibah kebakaran dan dibangun kembali pada tahun 2006. Pada tahun ini juga Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana yang diperuntukkan sebagai bantuan subsidi kepada pedagang lama Pasar.

Pasar Nusukan menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan pangan maupun sandang. Ativitas pasar dimulai dari dini hari hingga malam. Pedagang sayur-mayur kebanyakan datang dari luar kota Solo seperti Boyolali, Sragen, Purwodadi dan Karanganyar.
Lokasi: Jl. Kapten P. Tendean Nusukan Banjarsari Surakarta

4. Pasar Legi
Pasar Legi didirikan pada masa pemerintahan Mangkunegoro I (Pangeran Samber Nyawa). Terletak dijalan Sutan Syahrir, Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Pasar ini mempunyai luas sekitar 16.640 m2. Pasar Legi merupakan pasar induk hasil bumi terbesar di Surakarta, yang mendapatkan pasokan dagangan dari berbagai daerah baik dari wilayah sekitar surakarta maupun dari luar daerah seperti Brebes, Temanggung, Tasikmalaya, Sidoarjo, Malang dan lain sebagainya. Kegiatan pasar ini dimulai dari dini hari sampai malam hari. Pada tahun 2008 Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana untuk merenovasi beberapa bagian pasar yaitu blok ikan asin dan kelapa yang kemudian akan dilanjutkan ketahap berikutnya untuk bangunan dibagian depan/barat.
Lokasi: Jl. Jend. S. Parman Stabelan Banjarsari, Surakarta.

5. Pasar Klithikan Notoharjo
Pasar Notoharjo dibangun pada tahun 2006 oleh Pemerintah Kota Surakarta. Pasar ini terletak di Kalurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, diatas lahan seluas 1.800m2. Pasar Klithikan Notoharjo dibangun menampung pedagang kaki lima diarea Taman Monumen 45 Banjarsari yang berjumlah 909 pedagang. Pasar Notoharjo lebih dikenal dengan nama Pasar Klithikan karena pasar tersebut sebagai wadah bagi pedagang kakilima yang menjual berbagai barang bekas, seperti elektronik, pakaian, ponsel, sparepart kendaraan dan barang-barang lainnya. Pasar ini cukup unik karena disini pengunjung bisa menemukan barang-barang bekas yang dengan kreativitas para pedagang maka barang-barang tersebut dimanfaatkan kembali.

Sumber : www.pasarsolo.com

Kampoeng Batik Laweyan

Kampung batik Laweyan ialah Salah satu kawasan Heritage dikota Solo yang saya kategorikan “must to see”. Kampung Batik Laweyan merupakan tempat favorit turis baik lokal maupun mancanegara. Laweyan merupakan kawasan tua di kota Solo yang sangat penting dan terkenal karena hasil budaya yang sangat menarik yaitu kain batik. Pengunjung dapat langsung membeli kain batik yang tersedia di penjuru sudut gang Kampung Batik Laweyan.

Batik merupakan karya seni tradisional yang banyak ditekuni oleh masyarakat Laweyan Solo sampai sekarang. Laweyan merupakan kawasan sentra industri yang sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang 1546 M. Suasana kegiatan membatik di Laweyan tempo dulu banyak didominasi oleh keberadaan para juragan batik sebagai pemilik usaha batik.



Ratusan Bangunan kuno berjajar rapi menyambut kita dengan senyum tuanya disepanjang jalan dan lorong-lorong kampung ini. Kampung laweyan memiliki banyak lorong-lorong sempit yang memisahkan satu rumah dengan yang lain, akibat dari banyaknya benteng/pagar tinggi bangunan-bangunan rumah milik para saudaga batik yang ingin memperoleh keamanan maupun Privacy di tanah kekuasaan tempat tinggalnya, tentu saja Lorong-lorong ini menawarkan hal baru yang siap kita jelajahi, dan jangan bayangkan lorong-lorong dikampung ini seperti gang-gang sempit dikota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang kumuh dan jorok, namun bersiaplah memasuki suatu kawasan surga wisata sejarah yang akan membawa kita mengingat memory masa-masa pra-kemerdekaan yang kental disini.



Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu ingin menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya. Tentu saja tak semuanya bisa membangun istana yang luas, karena di kanan-kiri rumah mereka adalah lahan tetangga yang juga membangun istananya sendiri-sendiri. Alhasil, perkampungan Laweyan juga dipenuhi dengan berbagai istana mini, dipisahkan tembok-tembok setinggi 3 meter hingga 5 meter, dan menyisakan gang-gang sempit. Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno kampung Laweyan, kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo dulu.

Memasuki kampung Laweyan, hampir seluruh rumah penduduk yang umumnya berukuran besar dan megah merangkap fungsi sebagai showroom batik. Mulai dari batik seharga puluhan ribu hingga jutaan rupiah bisa dibeli disini. Beberapa tempat bahkan menawarkan kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatannya. Bagi yang ingin belajar membatik, jangan khawatir karena ada paket kursus singkat yang juga tersedia.

Masuk semakin dalam, tembok-tembok tua dan tinggi berdiri kokoh mengapit gang sempit. Dibaliknya berdiri istana para saudagar batik tempo dulu. Pada masa kejayaannya beberapa ratus tahun yang lalu para saudagar batik ini memang kaya raya, bahkan melebihi kekayaan para bangsawan kraton. Dengan kekayaannya itu, mereka berlomba-lomba membangun istananya masing-masing. Sebagian besar usaha para saudagar ini masih diteruskan oleh generasi berikutnya hingga sekarang. Memasuki showroom batik mereka, kita akan mendapatkan bonus tersendiri. Berbelanja batik sambil menikmati istana megah dengan arsitektur Jawa Kuno yang indah dalam pengaruh gaya Eropa, China dan Islam.

Sebagai kawasan cagar budaya, dilokasi tersebut banyak ditemukan situs-situs bersejarah antara lain Masjid Laweyan, makam Laweyan, Langgar Merdeka, Langgar Makmoer, rumah dan Museum H. Samanhudi (pendiri Serikat Dagang Islam). Kampung Laweyan didesain sedemikian rupa sebagai upaya untuk mempercantik kawasan dan nyaman bagi para pengunjung yang datang ke Kampung Laweyan.
Masjid Laweyan

Makam Laweyan dimana Ki Ageng Henis, Pakubuwono II, permaisuri Pakubuwono V, Nyi Ageng Pandanaran, Nyi Ageng Pati, Pangeran Widjil I Kadilangu, serta sejumlah tokoh lain, semuanya bersemayam di kawasan itu.

Langgar Merdeka

Rumah K.H. Samanhudi

Museum Samanhudi
Sebagian besar rumah Kampung Laweyan dibuat sebagian tempat tinggal sekaligus showroom batik-batik yang masyarakat hasilkan. Jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntun merupakan ciri khas utama batik Laweyan, dan beberapa khas batik solo. Selain karena hasil batik yang sangat menajubkan, pengunjung sejenak bersantai dimanjakan dengan musik khas solo seperti Kroncong , karawitan dan rebana. Musik tersebut merupakan jenis kesenian tradisional yang banyak ditemukan di masyarakat Laweyan.







Kampoeng Batik Kauman

Selain Kampung Laweyan, Solo juga mempunyai Kampung Kauman sebagai pusat produksi batik.
Hampir sama dengan Kampung Batik Laweyan, kawasan Kauman mempunyai banyak lorong, gang-gang sempit, dengan tembok menjulang di sepanjang sisinya. Rumah-rumah dibangun mewah dan besar dengan arsitektur campuran Eropa-Jawa-Cina. Dulu, kampung Kauman ini adalah kawasan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal kaum ulama kerajaan dan kerabatnya, serta tempat tinggal bagi saudagar batik merangkap karyawan keraton dengan status abdi dalam.




Kampung batik Kauman agaknya bisa menjadi alternatif wisata belanja batik, sekaligus melihat dari dekat proses pembuatan batik, baik tulis, cettak, atau pun cap. Kalau datang ke sini sebaiknya jangan hari minggu karena anda tidak bisa lihat proses pembuatan batik. Mau belajar batik, atau sekedar mencoba juga bisa dan gratis. Kampung batik Kauman bisa menjadi tujuan wisata saat liburan sekolah atau long week end. Proses pembuatan batik, menjadi salah satu bagian yang menarik dikunjungi. Mulai dari anak-anak sekolah sampai turis mancanegara suka menyaksikannya.
 
Memasuki kampung batik Kauman, bisa melihat peta yang terpampang di tembok bangunan lama. Lorong-lorong di kampung Kauman Solo mengingatkan pada lorong-lorong di kampung Laweyan yang dihimpit bangunan lama. Suasananya sangat khas. Banyak pengunjung yang berseliweran di gang-gang dan masuk ke rumah-rumah batik. Papan penunjuk ke rumah batik juga mudah ditemui, sehingga banyak pilihan.
 
Menyebut Kampung Kauman memang tak bisa lepas dari jejak perpindahan kraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama “kauman”.
 
Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton.
 
Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman. Produk-produk batik kampung kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.
 
Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
 
Selain produk batik, kampung batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.