Pasar Tradisonal di Kota Solo

Rabu, 30 Maret 2011

1. Pasar Klewer

Pasar Klewer pada awalnya dinamakan pasar Slompretan. Letaknya di sebelah selatan alun-alun utara, sebelah selatan Masjid Agung. Dahulu tempat itu dipergunakan untuk menyimpan dan berhentinya kereta. Pada pendudukan Jepang, tempat itu dipergunakan untuk berdagang bagi kalangan miskin yang tidak punya tempat berjualan. Para pedagang menawarkan dagangannya dengan disampirkan di bahu, sehingga tampak berkeleweran di pinggir jalan, maka pasar ini disebut Pasar Klewer.

Pada masa sekarang ini, Pasar Klewer merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di kota surakarta, di pasar ini didominasi perdangangan busana, mulai dari batik hingga fashion anak muda yang “gaul” bila meminjam instilah pada jaman sekarang ini.,selain itu pernak pernik khas solo dan segala makananan dijajakan disana,letak yang strategis yaitu dipusat kota Solo dan berdekatan dengan bangunan bersejarah dan pusat budaya yaitu Kraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung menjadikan pasar klewer menjadi salah satu pusat aktivitas warga Solo sehingga tak heran jalan-jalan disekita pasar klewer tak pernah sepi dari hiruk pikuk jalan. Pasar Klewer dibangun pada tahun 1970, dalam perkembangannya pasar Klewer menunjukkan perkembangan yang cukup mencengangkan, sekarang ini jumlah transaksi keseluruhan pada tiap harinya menjapai 5 - 6 Milyar Rupiah, wow angka yang cukup fantastis bukan… tak heran Pasar Klewer kini menjadi pasar Textile terbesar di Jawa Tengah. pasar Klewer merupakan salah satu sumber pemasukan daerah yang tidak main main, pasar tersebut pertahunnya turut menyumbang Rp. 3 Milyar Jumlah pendapatan retribusi tersebut telah hamper memenuhi 5% dari RAPBD Kota Surakarta tahun 2004. Sungguh pantas kalau Pasar Klewer Merupakan salah satu Icon Pariwisata kota surakarta, karena terbukti hingga sekarang pasar Klewer Merupakan alternatif tempat yang dikunjungan para wisatawan.

2. Pasar Gede
Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gede mulanya merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang berubah fungsi menjadi Balaikota Surakarta. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Bangunan pasar selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhé Hardjanagara. Pasar ini diberi nama pasar gedhé atau “pasar besar” karena terdiri dari atap yang besar. Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar gede terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gedhé dalam bahasa Jawa.

Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Lalu Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Surakarta kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Namun perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

Pasar Gede terletak di seberang Balaikota Surakarta pada jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pasar Gede di perkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong dan terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak yang keturunan Tionghoa pula. Budayawan Jawa ternama dari Surakarta Go Tik Swan yang seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar K.R.T. (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.

Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan.





3. Pasar Nusukan
Pasar Nusukan yang terletak dijalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta ini didirikan pada tahun 1958. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, pada tahun 1986 ada perubahan luas lahan dari hasil pembebasan tanah kantor Kelurahan dan Gedung Bioskop Nusukan. Pada tahun 2004 Pasar Nusukan mengalami musibah kebakaran dan dibangun kembali pada tahun 2006. Pada tahun ini juga Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana yang diperuntukkan sebagai bantuan subsidi kepada pedagang lama Pasar.

Pasar Nusukan menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan pangan maupun sandang. Ativitas pasar dimulai dari dini hari hingga malam. Pedagang sayur-mayur kebanyakan datang dari luar kota Solo seperti Boyolali, Sragen, Purwodadi dan Karanganyar.
Lokasi: Jl. Kapten P. Tendean Nusukan Banjarsari Surakarta

4. Pasar Legi
Pasar Legi didirikan pada masa pemerintahan Mangkunegoro I (Pangeran Samber Nyawa). Terletak dijalan Sutan Syahrir, Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Pasar ini mempunyai luas sekitar 16.640 m2. Pasar Legi merupakan pasar induk hasil bumi terbesar di Surakarta, yang mendapatkan pasokan dagangan dari berbagai daerah baik dari wilayah sekitar surakarta maupun dari luar daerah seperti Brebes, Temanggung, Tasikmalaya, Sidoarjo, Malang dan lain sebagainya. Kegiatan pasar ini dimulai dari dini hari sampai malam hari. Pada tahun 2008 Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana untuk merenovasi beberapa bagian pasar yaitu blok ikan asin dan kelapa yang kemudian akan dilanjutkan ketahap berikutnya untuk bangunan dibagian depan/barat.
Lokasi: Jl. Jend. S. Parman Stabelan Banjarsari, Surakarta.

5. Pasar Klithikan Notoharjo
Pasar Notoharjo dibangun pada tahun 2006 oleh Pemerintah Kota Surakarta. Pasar ini terletak di Kalurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, diatas lahan seluas 1.800m2. Pasar Klithikan Notoharjo dibangun menampung pedagang kaki lima diarea Taman Monumen 45 Banjarsari yang berjumlah 909 pedagang. Pasar Notoharjo lebih dikenal dengan nama Pasar Klithikan karena pasar tersebut sebagai wadah bagi pedagang kakilima yang menjual berbagai barang bekas, seperti elektronik, pakaian, ponsel, sparepart kendaraan dan barang-barang lainnya. Pasar ini cukup unik karena disini pengunjung bisa menemukan barang-barang bekas yang dengan kreativitas para pedagang maka barang-barang tersebut dimanfaatkan kembali.

Sumber : www.pasarsolo.com

Kampoeng Batik Laweyan

Kampung batik Laweyan ialah Salah satu kawasan Heritage dikota Solo yang saya kategorikan “must to see”. Kampung Batik Laweyan merupakan tempat favorit turis baik lokal maupun mancanegara. Laweyan merupakan kawasan tua di kota Solo yang sangat penting dan terkenal karena hasil budaya yang sangat menarik yaitu kain batik. Pengunjung dapat langsung membeli kain batik yang tersedia di penjuru sudut gang Kampung Batik Laweyan.

Batik merupakan karya seni tradisional yang banyak ditekuni oleh masyarakat Laweyan Solo sampai sekarang. Laweyan merupakan kawasan sentra industri yang sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang 1546 M. Suasana kegiatan membatik di Laweyan tempo dulu banyak didominasi oleh keberadaan para juragan batik sebagai pemilik usaha batik.



Ratusan Bangunan kuno berjajar rapi menyambut kita dengan senyum tuanya disepanjang jalan dan lorong-lorong kampung ini. Kampung laweyan memiliki banyak lorong-lorong sempit yang memisahkan satu rumah dengan yang lain, akibat dari banyaknya benteng/pagar tinggi bangunan-bangunan rumah milik para saudaga batik yang ingin memperoleh keamanan maupun Privacy di tanah kekuasaan tempat tinggalnya, tentu saja Lorong-lorong ini menawarkan hal baru yang siap kita jelajahi, dan jangan bayangkan lorong-lorong dikampung ini seperti gang-gang sempit dikota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang kumuh dan jorok, namun bersiaplah memasuki suatu kawasan surga wisata sejarah yang akan membawa kita mengingat memory masa-masa pra-kemerdekaan yang kental disini.



Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu ingin menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya. Tentu saja tak semuanya bisa membangun istana yang luas, karena di kanan-kiri rumah mereka adalah lahan tetangga yang juga membangun istananya sendiri-sendiri. Alhasil, perkampungan Laweyan juga dipenuhi dengan berbagai istana mini, dipisahkan tembok-tembok setinggi 3 meter hingga 5 meter, dan menyisakan gang-gang sempit. Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno kampung Laweyan, kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo dulu.

Memasuki kampung Laweyan, hampir seluruh rumah penduduk yang umumnya berukuran besar dan megah merangkap fungsi sebagai showroom batik. Mulai dari batik seharga puluhan ribu hingga jutaan rupiah bisa dibeli disini. Beberapa tempat bahkan menawarkan kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatannya. Bagi yang ingin belajar membatik, jangan khawatir karena ada paket kursus singkat yang juga tersedia.

Masuk semakin dalam, tembok-tembok tua dan tinggi berdiri kokoh mengapit gang sempit. Dibaliknya berdiri istana para saudagar batik tempo dulu. Pada masa kejayaannya beberapa ratus tahun yang lalu para saudagar batik ini memang kaya raya, bahkan melebihi kekayaan para bangsawan kraton. Dengan kekayaannya itu, mereka berlomba-lomba membangun istananya masing-masing. Sebagian besar usaha para saudagar ini masih diteruskan oleh generasi berikutnya hingga sekarang. Memasuki showroom batik mereka, kita akan mendapatkan bonus tersendiri. Berbelanja batik sambil menikmati istana megah dengan arsitektur Jawa Kuno yang indah dalam pengaruh gaya Eropa, China dan Islam.

Sebagai kawasan cagar budaya, dilokasi tersebut banyak ditemukan situs-situs bersejarah antara lain Masjid Laweyan, makam Laweyan, Langgar Merdeka, Langgar Makmoer, rumah dan Museum H. Samanhudi (pendiri Serikat Dagang Islam). Kampung Laweyan didesain sedemikian rupa sebagai upaya untuk mempercantik kawasan dan nyaman bagi para pengunjung yang datang ke Kampung Laweyan.
Masjid Laweyan

Makam Laweyan dimana Ki Ageng Henis, Pakubuwono II, permaisuri Pakubuwono V, Nyi Ageng Pandanaran, Nyi Ageng Pati, Pangeran Widjil I Kadilangu, serta sejumlah tokoh lain, semuanya bersemayam di kawasan itu.

Langgar Merdeka

Rumah K.H. Samanhudi

Museum Samanhudi
Sebagian besar rumah Kampung Laweyan dibuat sebagian tempat tinggal sekaligus showroom batik-batik yang masyarakat hasilkan. Jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntun merupakan ciri khas utama batik Laweyan, dan beberapa khas batik solo. Selain karena hasil batik yang sangat menajubkan, pengunjung sejenak bersantai dimanjakan dengan musik khas solo seperti Kroncong , karawitan dan rebana. Musik tersebut merupakan jenis kesenian tradisional yang banyak ditemukan di masyarakat Laweyan.







Kampoeng Batik Kauman

Selain Kampung Laweyan, Solo juga mempunyai Kampung Kauman sebagai pusat produksi batik.
Hampir sama dengan Kampung Batik Laweyan, kawasan Kauman mempunyai banyak lorong, gang-gang sempit, dengan tembok menjulang di sepanjang sisinya. Rumah-rumah dibangun mewah dan besar dengan arsitektur campuran Eropa-Jawa-Cina. Dulu, kampung Kauman ini adalah kawasan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal kaum ulama kerajaan dan kerabatnya, serta tempat tinggal bagi saudagar batik merangkap karyawan keraton dengan status abdi dalam.




Kampung batik Kauman agaknya bisa menjadi alternatif wisata belanja batik, sekaligus melihat dari dekat proses pembuatan batik, baik tulis, cettak, atau pun cap. Kalau datang ke sini sebaiknya jangan hari minggu karena anda tidak bisa lihat proses pembuatan batik. Mau belajar batik, atau sekedar mencoba juga bisa dan gratis. Kampung batik Kauman bisa menjadi tujuan wisata saat liburan sekolah atau long week end. Proses pembuatan batik, menjadi salah satu bagian yang menarik dikunjungi. Mulai dari anak-anak sekolah sampai turis mancanegara suka menyaksikannya.
 
Memasuki kampung batik Kauman, bisa melihat peta yang terpampang di tembok bangunan lama. Lorong-lorong di kampung Kauman Solo mengingatkan pada lorong-lorong di kampung Laweyan yang dihimpit bangunan lama. Suasananya sangat khas. Banyak pengunjung yang berseliweran di gang-gang dan masuk ke rumah-rumah batik. Papan penunjuk ke rumah batik juga mudah ditemui, sehingga banyak pilihan.
 
Menyebut Kampung Kauman memang tak bisa lepas dari jejak perpindahan kraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama “kauman”.
 
Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton.
 
Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman. Produk-produk batik kampung kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.
 
Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
 
Selain produk batik, kampung batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.

Solo - Eco Cultural City

Rabu, 23 Maret 2011

Eco Cultural City adalah sebuah konsep pengembangan kota yang menggabungkan nuansa budaya yang ramah lingkungan. Gagasan Eco Cultural City ini cukup menarik di tengah kuatnya isu pemanasan global. Setidaknya apa yang dicanangkan oleh Walikota Solo, Jokowi, ini sebagai upaya yang layak dilakukan setiap kota untuk menghentikan pemanasan global yang dampaknya juga kita rasakan di Solo dengan perubahan iklim yang cukup ekstrem. Secara peringkat barangkali kota di dalam kebun lebih maju dibanding konsep hutan kota yang biasa dilakukan di kota-kota di Indonesia.

Untuk mewujudkan konsep ini, Pemkot Solo telah membentuk tim yang akan membuat detil konsep tersebut yang terdiri dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), serta unsur pemerintahan wilayah. Salah satu konsep makronya  adalah pembuatan hutan kota melalui perbanyakan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Idealnya, RTH kota Solo adalah 30% dari keseluruhan wilayah. Akan tetapi, RTH Solo baru mencapai 18%. Untuk meningkatkan luasan RTH, Pemkot akan memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk dijadikan hutan kota. Pada tahapan awal, Pemkot akan menginventarisasi tanah negara. Tanah-tanah Negara itulah yang nantinya akan dijadikan hutan kota.

Selain pembuatan hutan kota, konsep Eco Budaya juga diwujudkan dengan pagar hijau baik di instansi pemerintah maupun swasta serta rumah warga. Sebagai contoh penggantian pagar beton menjadi pagar hijau yang dilaksanakan di Dinas Kebersihan dan Pertamanan bulan Juni lalu. Lalu juga dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UKM, serta Kantor Pemadam Kebakaran. Pembangunan pagar hijau ini telah dimulai dari bulan Juni 2010.
Depan Kantor DPRD

Depan PDAM

Depan Kantor Pemadam Kebakaran
Hutan kota didefinisikan oleh Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.03/MENHUT-V/2004 sebagai suatu hamparan lahan yang menjadi tempat tumbuhnya pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan, baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. Gagasan kota di dalam kebun disebut lebih maju karena lokasi penanamannya dilakukan di manapun, tidak hanya memanfaatkan sedikitnya 10 persen dari total keseluruhan luas wilayah. Namun dilakukan di lokasi yang lebih luas. Lokasi yang diatur oleh menteri kehutanan tetap menjadi wilayah yang wajib dijadikan sebagai lokasi hijau. Namun pada prinsipnya setiap jengkal tanah (termasuk pagar bangunan sekalipun) juga dimanfaatkan sebagai daerah hijau.

Di tahun pertama sejak pencanangannya, walikota meminta agar kawasan perkantoran menjadi pelopor untuk mengubah dari pagar tembok permanen ke pagar hidup. Ide pembuatan pagar dengan pohon hidup sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Bahkan sampai sekarang masih bisa ditemui di desa-desa. Pagar hidup memang menampilkan suasana yang lebih bersahabat, ramah dan terkesan asri. Namun pagar hidup baru awal dari penciptaan kesan hijau dari sebuah kota sebagai target awal implementasi kota di tengah kebun.

Gagasan Eco Cultural City pada dasarnya menyentuh dua isu besar. Yaitu isu pengembangan berperspektif ekologis untuk pertumbuhan kota dan pengembangan kota dengan perspektif kultural. Dalam periode pertama pemeritahan Jokowi-Rudy menitikberatkan penguatan tradisi. Terutama penguatan konsep “Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Kini. Di periode kedua ini, Jokowi-Rudy nampaknya menggabungkan isu tradisi akan semakin dimantapkan dengan menambahi unsur ekologis (lingkungan).

Peraturan Menteri Kehutanan cukup tegas terkait pohon apa saja yang direkomendasikan untuk ditanam. Jenis  tanaman yang direkomendasikan didominasi oleh tanaman pohon hutan,  serta disesuaikan dengan bentuk dan tipe penghijauan kota. Salah satu pohon yang direkomendasikan oleh peraturan menteri kehutanan adalah pohon-pohon langka dan menjadi pohon unggulan setempat.

Sejarah pertumbuhan Kota Solo cukup dekat dengan aneka tetumbuhan. Nama Solo sendiri yang berasal dari nama tokoh Solo yaitu Ki Gede Sala sesungguhnya juga merupakan nama pohon legendaris yaitu pohon sala (Couroupita guianensis). Pohon sala saat ini termasuk salah satu pohon langka. Pohon sala dikenal juga sebagai pohon body, pohon yang digunakan Siddhartha Gautama untuk bermeditasi. Keberadaannya di Kota Solo hanya bisa ditemui di beberapa lokasi. Salah satunya bisa kita lihat di halaman Balaikota Solo.

Beberapa daerah di Kota Solo juga ditandai dengan penamaan sesuai nama pohon, seperti Warung Pelem, Pasar Nongko, Kleco, Miri, Salam, Sekar Pace dan beberapa lagi yang menunjukkan identitas Kota Solo juga dibentuk oleh berbagai macam tetumbuhan.
Sekali merengkuh dua pulau terlampau. Ada baiknya jika penanaman pohon untuk menjadikan Solo di tengah kebun juga mengusung misi pelestarian pohon langka atau pelestarian plasma nutfah. Pohon yang dikategorikan pohon langka di antaranya Sawo Kecik (Manilkara kauki) yang sering merupakan alih-alih dari penyebutan sarwo becik, Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) pohon kegemaran putri keraton, ketapang, kenari, asem, kantil dan lain sebagainya. Dengan demikian menanam pohon bukan hanya menjadikan segala sesuatunya lebih teduh, namun akan menjaga agar pohon khas yang menjadi identitas Kota Solo tidak hilang.
Mengembalikan keberadaan pohon pada tempat tumbuhnya hingga dikenal dengan penyebutan nama daerah, barangkali juga layak dilakukan untuk memperkuat pencitraan kota. Meskipun nampaknya cukup sulit juga untuk dilakukan karena tidak semua pohon-pohon tersebut sesuai dengan kriteria jenis pohon sebagai hutan kota.

Selain itu, sejumlah sekolah dijadikan pilot project pembentukan pagar hijau dalam rangka mewujudkan program Walikota Solo, Joko Widodo, untuk menjadikan Kota Solo sebagai kota hijau. Sekolah-sekolah tersebut yakni SDN Cemara 2, SMKN 4, SMKN 5, SMKN 6, SMKN 7, dan SMAN 7. Di SMAN 4 kini telah dimulai penanaman bambu kuning di depan pagar sekolah dan tanaman rambat di sepanjang pagar sekolah. Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat SMA, Edy juga mengatakan bahwa pihaknya telah menghimbau seluruh SMA di Solo untuk memulai penanaman pohon pada pagar-pagar sekolah. Biaya pembuatan tanamannya juga tidak mahal, untuk SMAN 4 sendiri, butuh dana sekitar Rp 2 juta untuk membeli tanaman sekaligus pupuknya. Ada sekitar 125 batang bambu taman yang telah ditanam. Rencananya, pagar tidak akan dirobohkan. Banyak keuntungan dari adanya pagar hidup. Selain mendapatkan pengamanan berlapis,  tembok tidak perlu dicat dan tidak ada corat-coret.

SMKN 5

SMKN 1

SMKN 6

SMAN 4

Kawasan Ngarsopuro

Selasa, 15 Maret 2011



Identitas sebagai Kota Budaya sangat akrab dan melekat lama di Kota Solo. Hal itu tidak lepas dari peninggalan berbagai warisan pusaka (heritage) berupa tangible heritage (bendawi) dan intangible heritage (nonbendawi). Sebuah upaya pelestarian sudah menjadi kehendak seluruh warga Kota Solo. Sebab pelestarian warisan pusaka sebagai tanda proses perubahan serta perkembangan kota yang terjadi secara alamiah. Secara berurutan tanpa harus kehilangan masa lalu yang dapat dijadikan cermin untuk pembangunan masa depan. Oleh karena itu kehendak Pemkot dengan semboyan Solo Past Solo Future, Solo ke depan Solo masa lalu tidak boleh kehilangan makna. Itu semua dapat terjadi dan bertahan lama bila ada kehendak stakeholder untuk bekerjasama melindungi, melestarikan dan memperdayakan berbagai warisan budaya. Masyarakatpun harus ikut andil dan untuk mempertahankan dan melestarikan warisan pusaka (heritage). Sebab warisan budaya Kota Solo merupakan peninggalan yang masih bisa dilihat dan dibanggakan.

Kawasan ngarsopuro menjadi salah satu target kawasan yang akan dijadikan sebagai icon kota Solo. Ngarsopuro merupakan kawasan cagar budaya, hal ini didukung dengan adanya kraton mangkunegaran. Namun karena letaknya dekat dengan pusat kota, kawasan ini juga diperuntukkan sebagai district perdagangan. Bisa dilihat dari banyaknya toko-toko kecil dan beberapa shopping centre yang ada disana. Ngarsopuro terdiri dari tiga pasar, yaitu Pasar Elektronik, Pasar Ngarsapuro, dan Pasar Windujenar. Pasar Windujenar ini dulunya bernama pasar triwindu, pasar tradisional yang terkenal dengan keunikan produknya dan banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan domestic yang interest dengan benda-benda antic dan kerajinan. Di depan pasar windu jenar tersebut terdapat sebuah lembaga pendidikan, yaitu SMPN 5. Selain itu juga terdapat gedung MTA, gedung ini letaknya tepat di samping pasar elektronik yang berhadapan dengan kraton mangkunegaran. Adanya beberapa fasilitas dan bangunan non-komersil ini, nampaknya cukup mengacaukan kedinamisan konsep kawasan tersebut.

Jika di akses dari jalan slamet riyadi, jalan diponegoro (ngarsopuro) terlihat seperti gerbang masuk ke arah mangkunegaran. Setiap malam minggu, jalan diponegoro ini difungsikan sebagai night market. Pada saat night market ini dilaunching, keadaan sekitarnya masih sangat biasa hanya trotoar untuk pejalan kaki. Namun beriring berjalannya waktu, kawasan ini diberi beberapa fasilitas untuk mendukung kegiatan night market, yaitu adanya penataan landscape. Area pejalan kaki dikawasan ini menggunakan paving block dengan beberapa pola, disepanjang jalan diponegoro terdapat beberapa bangku melingkar yang dibuat dari besi, pada bagian bawah bangku ini diberi lampu sorot dan ditengahnya di Tanami pohon yang cukup tinggi. Di kanan kirinya pun diberi lampu jalan dengan gaya etnik yang unik, ada tiang lampu yang disertai ukiran dan ada rumah lampu yang berbentuk seperti sarang burung, pada tembok-tembok dikawasan tersebut dipasang lukisan-lukisan karya pelukis terkenal dengan tema-tema yang nyentrik, untuk menghilangkan kesan monoton lukisan inipun diganti beberapa waktu sekali. Dibeberapa titik juga terdapat pajangan topeng-topeng yang dilengkapi dengan lampu sorot, Patung-patung bertemakan alat music tradisional pun ikut meramaikan landscape di sepanjang jalan diponegoro. Dengan adanya perpaduan antara konsep landscape yang bertemakan zaman dulu dan di tambah dengan cahaya-cahaya redup yang berasal dari lampu-lampu etnik tersebut,pada malam hari kawasan ini terlihat eksotis dan terkesan kaya akan art. 

Secara keseluruhan, jika dilihat dari aspek estetik yang mengangkat konsep bahwa kawasan ini sebagai salah satu icon kota solo kota budaya sudah tercapai. Namun jika ditinjau dari segi fungsi, terdapat kekurangan dibeberapa bagian. Dari jalan selamet riyadi, ketika akan memasuki jalan diponegoro, kita akan menjumpai sejenis halte di sebelah kanan kirinya atau mungkin lebih tepatnya, tempat berteduh. shelter ini bukan shelter biasa, desainnya pun tidak sama seperti shelter lain yang bisa dijumpai di sepanjang jalan slamet riyadi. di sebelah kiri jalan masuk kawasan ngarsopuro, dibagian atas shelter ini bertuliskan “ngarsopuro” dengan alfabeth biasa, sedangkan yang disebelah kanannya bertuliskan ngarsopuro namun dalam tulisan palawa. Tetapi nampaknya shelter ini tidak dapat difungsikan secara baik. Baik siang maupun malam hari, Terkadang malah dijadikan sebagai tempat parker motor. Hal ini wajar terjadi, karena tidak ada satupun disediakan tempat duduk. Orang lebih memilih berteduh dan duduk dipinggiran toko dari pada bertebuh dibawah shelter etnik ini.

Pada malam hari, khususnya pada saat diselenggarakan night market, kawasan ini sangat ramai. Tempat parkir motorpun tersebar dimana-mana, membuat macet & lalu lintas dikawasan ngarsopuro menjadi crowded. Seharusnya jika pemkot mempunyai target pengunjung yang banyak pada night market, sejak awal space untuk parker harus difikirkan agar tidak mengganggu kenyamanan. Night market ini sendiri, dibuat untuk menampung pedagang-pedagang kreatif di kota Solo, bentuknya hanya berupa tenda-tenda yang dilayout berhadapan. produk yang dipasarkan ada berbagai macam, mulai dari makanan, aneka batik, miniature-miniatur unik dan berbagai macam aksesoris. Sebenarnya konsep Night Market tersebut patut diapresiasi. Sayangnya konsep yang sudah baik itu lemah dalam hal implementasi. Suasana yang dihadirkan tidak jauh beda dengan bazar yang sedang ngetrend di kampung-kampung. 

Penggunaan tenda terlampau besar, padat, berat dan minus artistik. Tenda yang terlalu besar ini berakibat menutup kawasan. karena ngarsopuro adalah kawasan cagar budaya, sebaiknya bentuk properti termasuk tenda bernuansa Jawa dengan material etnik, unik berbahan kayu, bukan tenda Maroko style. Pada saat musim penghujan, di night market ini terdapat banyak genangan-genangan air, tendanya pun tampias sehingga air juga masuk ke dalam tenda-tenda. Menurut keterangan dari Pak Joko wi (wali kota Solo) night market ini memang hanya diperuntukkan pada musim panas, dengan alasan bahwa jika musim hujan masyarakat Solo pun enggan untuk keluar rumah & tempat-tempat perbelanjaan akan sepi termasuk di night market. Sehingga memang tidak ada solusi teknis untuk masalah ini.

Suasana jalan diponegoro pada siang hari sangat berbeda dengan suasana di malam hari. Pada siang hari, kawasan ini cenderung sepi dan terkesan gersang. Sangat jarang ditemui orang-orang yang jalan dan sekedar duduk-duduk di area tersebut. Bangku-bangku taman nyaris tak berfungsi, karena tak ada peneduh pada bangku-bangku tersebut. Pohon yang berada ditengah lingkaran tempat duduk, awalnya kemungkinan digunakan sebagai peneduh. Namun pada kenyataannya pohon tersebut tidak tumbuh dengan baik dan tidak bisa meneduhi bangku yang berada di bawahnya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan sebuah kawasan, dalam membuat suatu grand design kawasan, sudah seharusnya ada banyak aspek yang dikaji. Bukan hanya coba-coba dan setengah-setengah, agar tidak menjadi ambigu. Karena ini akan berpengaruh kepada persepsi masyarakat mengenai “penggunaan/fungsi” dari kawasan tersebut. Sebuah fasilitas umum kota yang ideal adalah fasilitas yang berfungsi di setiap saat. Bukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, dan diharapkan adanya solusi-solusi teknis dalam pengonsepannya.

Sensasi Wedangan Solo

Solo memang disesaki beragam orang dengan selera aneh-aneh. Jangankan bara arang dicelupin ke dalam seduhan kopi, bubuk coklat yang diseduh dengan air jahe plus tape beras pun lazim dipesan pengunjung wedangan sebutan untuk kedai kakilima yang menjual aneka jenis minuman panas dan dingin.

Di Solo, kedai beginian populer disebut wedangan. Di tlatah Yogya, sebutannya lain lagi: angkringan atau warung koboi. Ciri khasnya sama, penjual menggunakan gerobak dorong. Sepertiga bagian digunakan untuk tungku penjerang air, sebagian lainnya untuk menggelar aneka penganan dan nasi bungkus yang mashur dengan sebutan sego kucing.

Umumnya, si penjual berposisi sebagai pusat. Ia dikelilingi pelanggan yang duduk di bangku panjang mengitari penjual pada dua atau tiga sisi gerobak yang berfungsi sebagai meja. Penjual, biasanya menyediakan sejumlah tikar, yang biasanya digelar di beberapa tempat di sekitarnya, sesuai selera pengunjung.

Bagi yang ingin mojok karena ingin melewati malam bersama kekasih atau atas dasar ingin menjaga privacy, mereka bia memilih tempat yang agak kiwa atau menjauh dari pusat. Begitulah suasana wedangan. Orang datang dengan alasan dan agenda sendiri-sendiri. Transaksi jual-beli bisa dilakukan di tempat-tempat begini, pembicaraan politisi juga biasa dilangsungkan dalam suasana wedangan. Kadang, orang datang hanya sekadar mengisi perut lalu pulang. Ada pula yang betah tinggal semalaman, menenggak bergelas-gelas wedang.

Di antara ratusan tempat wedangan yang berserak di seluruh penjuru dan sudut-sudut kampung, Wedangan Kemin di belakang Monumen Pers adalah tempat favorit saya. Pak Yo, generasi kedua wedangan itu baru setahun diusir (konon dengan kompensasi Rp 5 juta) dari tempat lamanya, di seberang monumen. Tempat lama yang telah dipakainya puluhan tahun, kabarnya akan disulap menjadi gedung perpustakaan, mungkin pula untuk rumah dinas Wakil Walikota.

Selain Wedangan Kemin atau Pak Yo, wedangan Mas Muji di Jl. Honggowongso, Tipes juga merupakan tempat favorit penggemar begadang. Wedangan dengan sajian teh yang mantap juga bisa ditemukan di Jl. MT Haryono, tak jauh dari kantor PLN Gondang. Sego kucing-nya juga pulen. Enak. Oh ya, hampir lupa. Sego kucing adalah sebutan (tepatnya olok-olok) untuk nasi sekepal dengan sambal dan lauk sekerat ikan asin yang dibungkus. Mungkin pantasnya untuk ngasih makan kucing piaraan, hehehehe.

Jika Anda penikmat teh, Anda harus mengingat satu hal, terutama jika memilih tempat wedangan secara acak. Jangan lupa menyebutkan takaran gula dan tingkat kekentalannya. Kebanyakan penjual dikenal royal untuk urusan gula. Dua sendok makan adalah takaran standar, sehingga bila diaduk akan menonjolkan rasa manis berlebihan.

Kalau hanya memesan teh panas, bisa dipastikan kepada Anda akan disuguhkan teh manis, kecuali menyebutkan permintaan teh tawar (berkebalikan dengan di Jakarta atau Bandung, yang selalu diberikan teh tawar bila tak mengemukakan permintaan sejak awal).

Berbeda dengan kebanyakan warung di Jakarta yang maunya serba praktis dengan teh celup, kebanyakan penjaja di Solo memiliki ramuan berbeda-beda. Biasanya, dua atau lebih merek teh dicampurkan untuk membuat formula khusus. Karena itu, rasanya akan berbeda di setiap wedangan. Mungkin, itu pula yang membuat orang selalu kangen menyeruput wedang teh di luar rumah.

Gladag Langen Bogan (Galabo)

 
Gladag Langen Bogan merupakan wisata kuliner malam di Kota Solo yang diresmikan pada Minggu malam 13 april 2008. Kehadiran tempat wisata kuliner malam Gladag Langen Bogan semakin memperkuat Solo sebagai kota terkenal dengan sebutan kota yang tidak pernah tidur.

Gladag Langen Bogan Solo adalah arena kuliner yang hanya dibuka pada malam hari, berlokasi di sebelah timur bundaran Gladag, tepatnya di JL. Mayor Sunaryo depan Beteng Trade Center dan Pusat Grosir Solo. sebelah utra berbatasan dengan situs bersejarah Beteng Vastenburg. Jika siang hari tetap sebagai jalan raya, sedangkan pada malam hari jalan ditutup untuk menjadi arena kuliner.
Setiap malam selalu dipenuhi pengunjung baikm dari masyarakat Solo maupun yang datang dari luar Kota solo yang penasaran dengan wiasata kuliner malam ini,Gladag Langen Bogan merupakan salah satu pilihan baru sebagai salah satu tujuan wisata di kota Solo. Pusat jajanan malam hari ini menawarkan aneka macam makanan dan minuman khas tradisional yang sudah legendaris di Kota Solo.

Masyarakat dan wisatawan dapat menemukan dengan mudah berbagai makanan dan minuman seperti thengkleng, sate kere, mie thoprak, wedang ronde, wedang dongo, dan masih banyak lagi di Gladag Langen Bogan yang digelar di sepanjang jalan utama depan Pusat Grosir Solo dan Beteng Trade Center Gladag.
Pusat jajanan malaam Gladag Langen Bogan i menutup arus lalu lintas utama jalan tersebut. Para penikmat kuliner dapat berkunjung sambil menikmati suasana kota Solo di malam hari dengan berjalan kaki di sepanjang Gladag Alun-Alun Utara. Pada akhir pekan, tak hanya makanan dan minuman khas yang ditawarkan disini, sajian musik live dapat pula dinikmati para pengunjung dengan cuma-Cuma dan adanya fasilitas hotspot.

Buka : 17.00 - 24.00 WIB

#2 Exotic Solo Culinary

Senin, 14 Maret 2011


Berikut ini adalah lanjutan postingan saya mengenai makanan khas Solo tetapi makanan makanan berikut ini cenderung masuk dalam kategori 'agak berat' atau mengenyangkan :

1. Nasi Liwet

Nasi Liwet mungkin adalah makanan khas Kota Solo yang paling terkenal, yang ketenarannya telah menyebar ke segala penjuru, dan sudah masuk menjadi menu di hotel-hotel berbintang di kota-kota besar di Indonesia.

Di Solo sendiri Nasi Liwet sudah sangat membumi, hingga setiap saat dan hampir dimanapun, anda akan dapat menemukan Nasi Liwet dengan mudah. Mulai dari Nasi Liwet yang paling terkenal di Solo, Nasi Liwet Wongso Lemu yang berlokasi di Keprabon (Jalan Teuku Umar) dan Nasi Liwet Yu Sani yang berlokasi di kawasan Solo Baru yang berjualan di malam hari hingga para mBakyu yang berjualan di pagi hari dengan berkeliling diperumahan.

Pada dasarnya Nasi liwet adalah beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam sehingga hasil akhirnya membuat nasi terasa gurih, beraroma dan lezat. Kemudian, nasi tersebut dicampur dengan sayuran jipang (labu siam) yang dimasak pedas, telur pindang rebus, daging ayam yang disuwir, kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan). Sering juga ditambah dengan usus ayam, hati/ampela yang direbus, bacem tahu tempe atau rambak kulit sapi sebagai pelengkap. Penyajiannya pun tidak menggunakan piring, tetapi dengan daun pisang yang dipincuk.

2. Sate Buntel

Sate Buntel adalah sate kambing khas Kota Solo yang lain dari pada yang lain, pokoknya one of a kind lah. Sate Buntel adalah sate yang terbuat dari daging kambing yang dicincang, diberi bumbu bawang dan merica dan kemudian di-buntel (dibungkus) dengan lemak kambing. Sate kambing saja sudah enak, apalagi kalau daging kambingnya dicincang dan dibungkus dengan lemak sebelum dibakar hingga matang di atas bara dan dimakan bersama saus kecap, irisan cabe rawit yang diuleg kasar, bawang merah, irisan kol dan tomat. Lebih nikmat lagi dinikmati bersama acar ketimun...Hm ... Mak Nyos!

Salah satu warung makan penyedia Sate Buntel yang paling terkenal dan paling most wanted di Solo adalah warung Sate Kambing Tambak Segaran, Jalan Sutan Syahrir No 39 (Widuran) yang telah berjualan sejak tahun 1948. Kesuksesan warung sate ini mendorong munculnya banyak warung sate buntel lainnya.

Jika anda penggemar wisata kuliner dan sedang memesan satu porsi sate buntel, perlu diketahui bahwa satu porsi sate buntel tidak berisi 10 tusuk sate seperti sate biasanya. Kenapa? karena ukuran sate buntel ini besar dan satu porsi sate biasanya sudah cukup banyak untuk dimakan berdua. Tetapi ada baiknya anda pastikan dulu besar satenya sebelum memesan, agar tidak kelebihan ataupun kekurangan. 

3. Sate Kere

Satu lagi yang wajib dicoba dan lagi-lagi khas Kota Solo (walaupun daerah lain saat ini ada yang mempunyai makanan dengan nama yang sama dengan konten yang berbeda) adalah Sate Kere.
Seperti halnya soto, hidangan sate sebenarnya bukan makanan khas Solo. Tapi untuk sate enak yang satu ini memang khas Solo. Wajib hukumnya bagi anda untuk mampiri ke warung Sate Kere saat ke Solo. Salah satu warung Sate Kere yang terkenal adalah Warung Yu Rebi di daerah Penumping dekat Stadion Sriwedari (yang ini harganya jauh dari kere) atau di depan TK Marsudirini (hanya ada pagi sampai siang, yang ini harganya lebih murah).
Kenapa disebut Sate Kere? Karena di warung Sate Kere anda akan dapat menjumpai sate tempe gembus (tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu), disamping daging dan jeroan sapi. Namun, biasanya tempe gembus-nya lebih dominan. Karena itu, makanan tersebut kemudian disebut sate kere (satenya orang miskin). Jadi bagi orang yang mengidap penyakit darah tinggi, tak usah menghindar warung ini. Asalkan anda tidak memesan sate jeroan seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, babat, iso daging sapi.
Bumbu perendam tempe embus sama dengan bumbu rendaman bahan jeroan. Sedangkan bumbu untuk menyantapnya adalah sambal kacang, dengan kacang yang tidak begitu banyak sehingga terasa lebih ringan. Dalam sehari warung sate Yu Rebi mampu menghabiskan 30 sampai 50 kg daging dan jeroan. Tak heran, karena pelanggannya bukan berasal dari Solo saja, melainkan dari kota-kota sekitar Solo.


4. Timlo Solo
 

Timlo, bukan Kimlo adalah salah satu makanan khas di Kota Solo. Berbeda dengan makanan sejenis yang dimiliki daerah lain, Timlo Solo tidak mempergunakan soun dan jamur merang. Untuk menikmati rasa Timlo yang khas Solo, anda harus datang ke Timlo Sastro di daerah Balong Pasar Gede atau di cabangnya di Pasar m'Beling dan Timlo Solo di Jl. Urip Sumoharjo. Tempat ini benar-benar jagonya timlo. Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi 'sosis' daging ayam yang dipotong-potong, potongan telur pindang, hati dan ampela ayam.
Timlo Sastro mempunyai cara menghitung pesanan yang unik, pesanan tidak dicatat di atas kertas, melainkan ditulis di atas papan tulis kecil (Sabak) dan baru kemudian harganya dijumlah. Semangkuk Timlo komplit dapat dinikmati hanya dengan mengeluarkan uang Rp 9.000 ,-
Semangkuk Timlo panas, dimakan bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng dan ditemani segelas es jeruk pasti akan membuat anda ingin kembali berulang kali.

5. Pecel Ndeso

Pecel n'Deso yang dimaksud adalah nasi pecel yang nasinya berasal dari beras merah, jenis beras yang kini sulit didapat. Pecelnya, berisikan dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi dan kacang panjang. Sambalnya ada dua pilihan, sambal kacang seperti pecel pada umumnya atau sambal wijen yang memiliki dua pilihan, wijen putih atau hitam. Lauk yang bisa anda pilih disini ada: belut goreng, wader pari yang digoreng tanpa tepung, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot (kelapa dan daun simbukan), otak dan iso goreng. Untuk bisa menikmati pecel ndeso ini silahkan datang ke Manahan pada hari Minggu pagi, banyak warung-warumg lesehan yang menjajakan makanan ini.

6. Cabuk Rambak

Namanya cukup aneh, Cabuk Rambak. Jenis makanan dengan menu utama ketupat ini sangat khas Solo. Istilah khas untuk ketupatnya adalah Gendar Janur, sebab beras yang ditanak untuk dijadikan gendar berada di dalam anyaman janur.
Pada hari-hari biasa, para pedagang cabuk rambak menjajakannya secara berkeliling kampung, tapi saat perayaan Sekaten mereka bisa dijumpai tersebar di halaman Masjid Agung Keraton dalam jumlah puluhan.
Apa sih beda Cabuk Rambak dari ketupat daerah lain? Bisa jadi itu terletak pada bumbu ketupatnya. Ketupat dengan sayur bersantan atau yang dicampur dengan sate ayam barangkali telah umum di beberapa tempat. Tapi, bumbu cabuk rambak itu berbeda. Yakni, wijen yang digoreng bersama santan kelapa, cabai, bawang putih, kemiri, dan gula merah. Itu pula yang menjadi ciri khas penganan itu. Soal cita rasa bumbu seperti itu bagaimana? Tak diragukan lagi. Orang dari wilayah Surakarta sebagian besar menyebutnya bumbu istimewa. Pada tataran yang lebih luas, bumbu serupa itu pula yang menyebabkan banyak orang merasa kangen untuk kembali menikmati, karena ada nilai eksotis atau semacam kelangenan.
Bukan itu saja yang membuat makanan ini jadi istimewa. Karak, sejenis kerupuk dari bahan beras yang menjadi 'suplemen' penganan ini, menjanjikan kenikmatan tersendiri bagi pengudapnya. Orang se-eks Karesidenan Surakarta menyebut rambak untuk penganan yang di beberapa tempat lain disebut kerupuk. Maka, kata rambak pada nama penganan itu memang berasal dari karak yang melengkapi cabuk rambak. Oh ya, untuk menikmatinya kita tidak mempergunakan sendok atau garpu, melainkan mempergunakan lidi.

7. Selat Solo

Kebanyakan orang Solo lebih menyukai menyantap sesuatu yang berkuah sebagaimana kebiasaan mereka sehari-hari makan masakan berkuah. Salah satu bentuk percampuran masakan berkuah asal Barat dengan selera lidah lokal dan menjadi makanan khas di Kota Solo adalah Selat Segar Solo. Makanan ini sering dijadikan hidangan pada saat kondangan, tidak hanya di Solo tapi juga sampai di kota-kota lain.
Racikan Selat solo yang juga merupakan adaptasi dari salad terdiri dari daging yang diiris tipis, ditambah rebusan buncis, kentang, wortel, telur rebus, dan mayones, kemudian disiram kuah kecap encer.
Warung atau rumah makan yang paling direkomendasikan ketika anda ingin mencicipi Selat Solo adalah Warung Selat m'Bak Lies di Serengan, Warung Selat Viens di Pasar Nangka dan Rumah Makan Kusuma Sari di Jalan Slamet Riyadi. 

8.Tengkleng Solo
 

Kalau anda main ke kota Solo, jangan lupa cicipi Tengkleng asli Solo. Apa sih Tengkleng itu? Gule kambing adalah contoh yang paling dekat untuk menggambarkan cita-rasa Tengkleng bagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Yang membedakan tentu saja adalah rasa dan kuahnya. Kuah Gule menggunakan santan kelapa, sementara Tengkleng tidak memakai santan. Jadi lumayan, sumber kolesterolnya berkurang satu!
Selain itu isi Tengkleng adalah tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, diberi sate daging, sate usus, sate jeroan, otak dan bagian organ kambing lainnya yang ikut digulai bersama tulang-tulang, seperti mata, pipi, kuping, dan kandungan (klepon).
Kenikmatan makan Tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang tersisa dari tulangnya atau mengisap-isap isi sumsum tulang.
Tertarik? Datang saja ke Pasar Klewer, di sana ada Ibu Ediyem yang berjualan di lapaknya yang sederhana di samping Gapura Pasar Klewer atau ke warung tengkleng Yu Tentrem di Jl. Letjen Sutoyo, Bibis. Biasanya pembeli duduk di atas bangku kayu berdesak-desakan lalu makan dengan lahap menikmati nasi tengkleng yang disajikan. Karena rasanya yang khas, masakan tengklengnya Ibu Ediyem maupun Yu Tentrem sering dipesan pejabat yang mengadakan acara kantor maupun keluarga.

9. Gudeg Ceker

Pengalaman wisata kuliner di Gudeg Ceker Bu Kusno Margoyudan di Jl. Wolter Monginsidi, Solo benar-benar pengalaman one of a kind. Bukan hanya karena jam bukanya yang ajaib (Gudeg ini baru buka jam 02:00 dini hari), tapi juga dari banyak dan beraneka ragamnya pembeli mulai dari bapak-bapak penarik becak, hingga pejabat dan wisatawan dari daerah lain. Mereka semua tidak berebutan dan marah-marah minta dilayani. Benar-benar pengalaman yang unik, seakan semua orang paham apa yang mereka inginkan sehingga bersikap baik untuk mendapatkannya. Semua itu terjadi hanya untuk satu alasan: Gudeg Ceker.
Di tempat ini, ceker (kaki ayam) menjadi side dish yang dihidangkan bersama dengan gudeg. Ceker dimasak secara gudeg kering dan biasanya setiap pengunjung bisa menghabiskan 10 hingga 20 ceker sekali makan. Jangan heran, ceker yang disajikan disini lunak dan lezat.
Selain dimakan bersama dengan nasi gudeg, pengunjung bisa juga memesan ceker sebagai side dish dari bubur. Nah kalau dimakan dengan bubur, maka akan lebih nikmat kalau disiram dengan kuah sambal goreng krecek. Cocok sekali untuk sarapan dipukul 04:00 pagi!

10. Tahu Kupat

Ketika pertama kali mencoba makanan khas Solo yang satu ini, anda mungkin akan teringat dengan Tahu Gimbal, makanan khas Semarangan. Ya, kedua makanan ini memang mirip.
Satu porsi makanan khas ini terdiri dari ketupat, mi basah, taoge, tahu goreng, bakwan gimbal yang dipotong-potong dan kacang goreng yang disiram dengan bumbu kecap manis encer dengan rasa bawang yang cukup terasa. Disamping campuran standard di atas, anda dapat juga menambahkan isi tahu kupat anda dengan telur dadar.
Warung tahu kupat yang terkenal dan ramai dikunjungi di Solo dapat anda jumpai di Jl. Gajah Mada no 95 (di depan Masjid Solihin) atau di depan Pasar Kadipolo.