Kawasan Ngarsopuro

Selasa, 15 Maret 2011



Identitas sebagai Kota Budaya sangat akrab dan melekat lama di Kota Solo. Hal itu tidak lepas dari peninggalan berbagai warisan pusaka (heritage) berupa tangible heritage (bendawi) dan intangible heritage (nonbendawi). Sebuah upaya pelestarian sudah menjadi kehendak seluruh warga Kota Solo. Sebab pelestarian warisan pusaka sebagai tanda proses perubahan serta perkembangan kota yang terjadi secara alamiah. Secara berurutan tanpa harus kehilangan masa lalu yang dapat dijadikan cermin untuk pembangunan masa depan. Oleh karena itu kehendak Pemkot dengan semboyan Solo Past Solo Future, Solo ke depan Solo masa lalu tidak boleh kehilangan makna. Itu semua dapat terjadi dan bertahan lama bila ada kehendak stakeholder untuk bekerjasama melindungi, melestarikan dan memperdayakan berbagai warisan budaya. Masyarakatpun harus ikut andil dan untuk mempertahankan dan melestarikan warisan pusaka (heritage). Sebab warisan budaya Kota Solo merupakan peninggalan yang masih bisa dilihat dan dibanggakan.

Kawasan ngarsopuro menjadi salah satu target kawasan yang akan dijadikan sebagai icon kota Solo. Ngarsopuro merupakan kawasan cagar budaya, hal ini didukung dengan adanya kraton mangkunegaran. Namun karena letaknya dekat dengan pusat kota, kawasan ini juga diperuntukkan sebagai district perdagangan. Bisa dilihat dari banyaknya toko-toko kecil dan beberapa shopping centre yang ada disana. Ngarsopuro terdiri dari tiga pasar, yaitu Pasar Elektronik, Pasar Ngarsapuro, dan Pasar Windujenar. Pasar Windujenar ini dulunya bernama pasar triwindu, pasar tradisional yang terkenal dengan keunikan produknya dan banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan domestic yang interest dengan benda-benda antic dan kerajinan. Di depan pasar windu jenar tersebut terdapat sebuah lembaga pendidikan, yaitu SMPN 5. Selain itu juga terdapat gedung MTA, gedung ini letaknya tepat di samping pasar elektronik yang berhadapan dengan kraton mangkunegaran. Adanya beberapa fasilitas dan bangunan non-komersil ini, nampaknya cukup mengacaukan kedinamisan konsep kawasan tersebut.

Jika di akses dari jalan slamet riyadi, jalan diponegoro (ngarsopuro) terlihat seperti gerbang masuk ke arah mangkunegaran. Setiap malam minggu, jalan diponegoro ini difungsikan sebagai night market. Pada saat night market ini dilaunching, keadaan sekitarnya masih sangat biasa hanya trotoar untuk pejalan kaki. Namun beriring berjalannya waktu, kawasan ini diberi beberapa fasilitas untuk mendukung kegiatan night market, yaitu adanya penataan landscape. Area pejalan kaki dikawasan ini menggunakan paving block dengan beberapa pola, disepanjang jalan diponegoro terdapat beberapa bangku melingkar yang dibuat dari besi, pada bagian bawah bangku ini diberi lampu sorot dan ditengahnya di Tanami pohon yang cukup tinggi. Di kanan kirinya pun diberi lampu jalan dengan gaya etnik yang unik, ada tiang lampu yang disertai ukiran dan ada rumah lampu yang berbentuk seperti sarang burung, pada tembok-tembok dikawasan tersebut dipasang lukisan-lukisan karya pelukis terkenal dengan tema-tema yang nyentrik, untuk menghilangkan kesan monoton lukisan inipun diganti beberapa waktu sekali. Dibeberapa titik juga terdapat pajangan topeng-topeng yang dilengkapi dengan lampu sorot, Patung-patung bertemakan alat music tradisional pun ikut meramaikan landscape di sepanjang jalan diponegoro. Dengan adanya perpaduan antara konsep landscape yang bertemakan zaman dulu dan di tambah dengan cahaya-cahaya redup yang berasal dari lampu-lampu etnik tersebut,pada malam hari kawasan ini terlihat eksotis dan terkesan kaya akan art. 

Secara keseluruhan, jika dilihat dari aspek estetik yang mengangkat konsep bahwa kawasan ini sebagai salah satu icon kota solo kota budaya sudah tercapai. Namun jika ditinjau dari segi fungsi, terdapat kekurangan dibeberapa bagian. Dari jalan selamet riyadi, ketika akan memasuki jalan diponegoro, kita akan menjumpai sejenis halte di sebelah kanan kirinya atau mungkin lebih tepatnya, tempat berteduh. shelter ini bukan shelter biasa, desainnya pun tidak sama seperti shelter lain yang bisa dijumpai di sepanjang jalan slamet riyadi. di sebelah kiri jalan masuk kawasan ngarsopuro, dibagian atas shelter ini bertuliskan “ngarsopuro” dengan alfabeth biasa, sedangkan yang disebelah kanannya bertuliskan ngarsopuro namun dalam tulisan palawa. Tetapi nampaknya shelter ini tidak dapat difungsikan secara baik. Baik siang maupun malam hari, Terkadang malah dijadikan sebagai tempat parker motor. Hal ini wajar terjadi, karena tidak ada satupun disediakan tempat duduk. Orang lebih memilih berteduh dan duduk dipinggiran toko dari pada bertebuh dibawah shelter etnik ini.

Pada malam hari, khususnya pada saat diselenggarakan night market, kawasan ini sangat ramai. Tempat parkir motorpun tersebar dimana-mana, membuat macet & lalu lintas dikawasan ngarsopuro menjadi crowded. Seharusnya jika pemkot mempunyai target pengunjung yang banyak pada night market, sejak awal space untuk parker harus difikirkan agar tidak mengganggu kenyamanan. Night market ini sendiri, dibuat untuk menampung pedagang-pedagang kreatif di kota Solo, bentuknya hanya berupa tenda-tenda yang dilayout berhadapan. produk yang dipasarkan ada berbagai macam, mulai dari makanan, aneka batik, miniature-miniatur unik dan berbagai macam aksesoris. Sebenarnya konsep Night Market tersebut patut diapresiasi. Sayangnya konsep yang sudah baik itu lemah dalam hal implementasi. Suasana yang dihadirkan tidak jauh beda dengan bazar yang sedang ngetrend di kampung-kampung. 

Penggunaan tenda terlampau besar, padat, berat dan minus artistik. Tenda yang terlalu besar ini berakibat menutup kawasan. karena ngarsopuro adalah kawasan cagar budaya, sebaiknya bentuk properti termasuk tenda bernuansa Jawa dengan material etnik, unik berbahan kayu, bukan tenda Maroko style. Pada saat musim penghujan, di night market ini terdapat banyak genangan-genangan air, tendanya pun tampias sehingga air juga masuk ke dalam tenda-tenda. Menurut keterangan dari Pak Joko wi (wali kota Solo) night market ini memang hanya diperuntukkan pada musim panas, dengan alasan bahwa jika musim hujan masyarakat Solo pun enggan untuk keluar rumah & tempat-tempat perbelanjaan akan sepi termasuk di night market. Sehingga memang tidak ada solusi teknis untuk masalah ini.

Suasana jalan diponegoro pada siang hari sangat berbeda dengan suasana di malam hari. Pada siang hari, kawasan ini cenderung sepi dan terkesan gersang. Sangat jarang ditemui orang-orang yang jalan dan sekedar duduk-duduk di area tersebut. Bangku-bangku taman nyaris tak berfungsi, karena tak ada peneduh pada bangku-bangku tersebut. Pohon yang berada ditengah lingkaran tempat duduk, awalnya kemungkinan digunakan sebagai peneduh. Namun pada kenyataannya pohon tersebut tidak tumbuh dengan baik dan tidak bisa meneduhi bangku yang berada di bawahnya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan sebuah kawasan, dalam membuat suatu grand design kawasan, sudah seharusnya ada banyak aspek yang dikaji. Bukan hanya coba-coba dan setengah-setengah, agar tidak menjadi ambigu. Karena ini akan berpengaruh kepada persepsi masyarakat mengenai “penggunaan/fungsi” dari kawasan tersebut. Sebuah fasilitas umum kota yang ideal adalah fasilitas yang berfungsi di setiap saat. Bukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, dan diharapkan adanya solusi-solusi teknis dalam pengonsepannya.

0 komentar:

Posting Komentar