Solo memang disesaki beragam orang dengan selera aneh-aneh. Jangankan bara arang dicelupin ke dalam seduhan kopi, bubuk coklat yang diseduh dengan air jahe plus tape beras pun lazim dipesan pengunjung wedangan sebutan untuk kedai kakilima yang menjual aneka jenis minuman panas dan dingin.
Di Solo, kedai beginian populer disebut wedangan. Di tlatah Yogya, sebutannya lain lagi: angkringan atau warung koboi. Ciri khasnya sama, penjual menggunakan gerobak dorong. Sepertiga bagian digunakan untuk tungku penjerang air, sebagian lainnya untuk menggelar aneka penganan dan nasi bungkus yang mashur dengan sebutan sego kucing.
Umumnya, si penjual berposisi sebagai pusat. Ia dikelilingi pelanggan yang duduk di bangku panjang mengitari penjual pada dua atau tiga sisi gerobak yang berfungsi sebagai meja. Penjual, biasanya menyediakan sejumlah tikar, yang biasanya digelar di beberapa tempat di sekitarnya, sesuai selera pengunjung.Bagi yang ingin mojok karena ingin melewati malam bersama kekasih atau atas dasar ingin menjaga privacy, mereka bia memilih tempat yang agak kiwa atau menjauh dari pusat. Begitulah suasana wedangan. Orang datang dengan alasan dan agenda sendiri-sendiri. Transaksi jual-beli bisa dilakukan di tempat-tempat begini, pembicaraan politisi juga biasa dilangsungkan dalam suasana wedangan. Kadang, orang datang hanya sekadar mengisi perut lalu pulang. Ada pula yang betah tinggal semalaman, menenggak bergelas-gelas wedang.
Di antara ratusan tempat wedangan yang berserak di seluruh penjuru dan sudut-sudut kampung, Wedangan Kemin di belakang Monumen Pers adalah tempat favorit saya. Pak Yo, generasi kedua wedangan itu baru setahun diusir (konon dengan kompensasi Rp 5 juta) dari tempat lamanya, di seberang monumen. Tempat lama yang telah dipakainya puluhan tahun, kabarnya akan disulap menjadi gedung perpustakaan, mungkin pula untuk rumah dinas Wakil Walikota.
Selain Wedangan Kemin atau Pak Yo, wedangan Mas Muji di Jl. Honggowongso, Tipes juga merupakan tempat favorit penggemar begadang. Wedangan dengan sajian teh yang mantap juga bisa ditemukan di Jl. MT Haryono, tak jauh dari kantor PLN Gondang. Sego kucing-nya juga pulen. Enak. Oh ya, hampir lupa. Sego kucing adalah sebutan (tepatnya olok-olok) untuk nasi sekepal dengan sambal dan lauk sekerat ikan asin yang dibungkus. Mungkin pantasnya untuk ngasih makan kucing piaraan, hehehehe.
Jika Anda penikmat teh, Anda harus mengingat satu hal, terutama jika memilih tempat wedangan secara acak. Jangan lupa menyebutkan takaran gula dan tingkat kekentalannya. Kebanyakan penjual dikenal royal untuk urusan gula. Dua sendok makan adalah takaran standar, sehingga bila diaduk akan menonjolkan rasa manis berlebihan.
Kalau hanya memesan teh panas, bisa dipastikan kepada Anda akan disuguhkan teh manis, kecuali menyebutkan permintaan teh tawar (berkebalikan dengan di Jakarta atau Bandung, yang selalu diberikan teh tawar bila tak mengemukakan permintaan sejak awal).
Berbeda dengan kebanyakan warung di Jakarta yang maunya serba praktis dengan teh celup, kebanyakan penjaja di Solo memiliki ramuan berbeda-beda. Biasanya, dua atau lebih merek teh dicampurkan untuk membuat formula khusus. Karena itu, rasanya akan berbeda di setiap wedangan. Mungkin, itu pula yang membuat orang selalu kangen menyeruput wedang teh di luar rumah.


1 komentar:
WedaNgan Cherrie
WedaNgan gaUL aLa distrO...
wedaNgan yaNg LaiN daRi yaNg LaiN...
sUasaNa yaNg didisaiN deNgan modeL distrO..gaUL en treNdy abiiz...bisa d'pakaI unTuk rapaT..koNgkow...dsb...
maKaNan bakaRan yaNg dibuMbui deNgan reseP khusuS...dijaMin enaK tur muRah...
Lokasii na d'jaLan SamRatuLangi No 7B Gremet Joho ManaHan...(50 meter daRi paTung boLa piNggir reL k baradT)...
Posting Komentar