Wisata 'Kota Tua' yang Eksotis

Rabu, 02 Maret 2011

Solo (Surakarta) sebuah kota bersejarah dibagian tengah Pulau Jawa, tempat dimana sisa-sisa kejayaan peradaban kerajaan Mataram jawa masih bisa kita temui disetiap sudut kota dan sendi kehidupan masyarakatnya, dari masih berdiri kokohnya keraton dua kerajaan akibat perpecahan Trah Mataram, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kadipaten Pura Mangkunegaran, serta masih terjaganya “the Royal Family” dari keduanya. Dan juga dari bentuk-bentuk bangunan di kota solo hingga kultur karakter masyarakat kota Solo yang masih memegang erat adat tradisi dan sejarah kearifan budaya jawa masa lampau.

Sebagai kota dengan sejarah pemerintahan kerajaan Jawa masa lalu, Solo menjadi saksi betapa panjangnya perjalanan dan pembelajaran yang dialami, dalam melewati masa demi masa dan berbagai akulturasi budaya yang akhirnya membentuk karakter dan memberi warna tersendiri pada perkembangan kota Solo. Berkembang dari wilayah suatu desa bernama Desa Sala, di tepian sungai bengawan solo yang dibangun pada tahun 1745 sebagai akibat dari peristiwa “geger pacinan”, Solo berkembang menjadi suatu wilayah “Vorstanlande” atau daerah kekusaan raja yang sangat diperhitungkan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada masa penjajahan, hal ini di lihat dari banyaknya bangunan bergaya Kolonialisme yang bersanding apik dengan properti bangunan milik kerajaan di kota Solo.

Keraton Kasunanan Surakarta


Keraton Surakarta ialah “Spot Touristy” yang paling mudah ditemukan dikota Solo, hampir semua warga Kota Solo tahu persis tentang lokasi keberadaan Kediaman Dinasti Pakubuwono ini. Keraton ini memang dikhususkan dihuni oleh keluarga Kerajaan dari Garis keturunan Susuhunan Pakubuwono beserta para punggawa dan abdi dalam keraton, terletak didekat alun-alun utara Kota Solo bersebelahan tepat dengan pasar batik Klewer dan Masjid Agung Solo. Keraton dengan bentuk bangunan perpaduan Jawa – Belanda ini didominasi oleh warna Putih dan biru muda, sebagai simbol Feodal Jawa dimasa lalu Keraton Solo hingga saat ini masih dapat menunjukkan wibawanya sebagai tempat tinggal anggota keluarga kasta tertinggi dalam masyarakat Jawa Solo.

Didalam keraton saat ini kita masih dapat melihat sisa-sisa sejarah tingginya intensitas dari akulturasi budaya Jawa dan Belanda, seperti adanya dua buah meriam dgn logo VOC berada didepan gerbang, kereta Kuda keraton Surakarta dengan Logo VOC dipintu sampingnya dan banyaknya pilar dan patung-patung ala romawi berada diarea lautan pasir dijantung Keraton. Bila ingin berkunjung Tempat ini dibuka pukul 09.00 pagi sampai pukul 14.00. 

Kraton Kasunanan Surakarta dibangun oleh Paku Buwono II pada tahun 1744. Di dalam kraton Anda dapat melihat museum sejarah yang berisi pusaka kerajaan, kereta kerajaan dan benda-benda antik lainnya. Terdapat pemandu wisata yang akan mengantar dan memberi informasi secara lengkap.

Bangunan  kraton merupakan perpaduan antara Jawa dan Eropa. Anda akan disambut dengan ukiran khas Solo pada gerbang pintu masuk. Di sisi dalam kraton terdapat beberapa kompleks terpisah yang memiliki fungsi masing-masing.


Salah satu bangunan yang mencolok dan berkesan misterius adalah sebuah menara yang dikenal dengan Sangga Buwana. Di dalam lingkungan masyarakat Solo terdapat sebuah kepercayaan bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di kota Solo tidak boleh melebihi dari Panggung Sangga Buwana ini. 
 
Kraton Mangkunegaran
Kraton yang sangat terawat ini terletak di pusat kota, antara jalan Ronggowarsito, jalan Kartini dan Teuku Umar. Pura ini menyimpan kesenian dan kebudayaan pada jaman kerajaan Majapahit seperti perhiasan, patung-patung ataupun pakaian kekaisaran. 

Pura ini adalah tempat tinggal keturunan raja, dan anak-anaknya. Terdapat pula perpustakaan tentang kebudayaan Jawa Kuno. Pada event-event kesenian tertentu, Kraton Mangkunegaran dibuka untuk para pengunjung atau wisatawan.

Benteng Vasternburg
Benteng di tengah kota ini, adalah bekas kolonial Belanda, sebagai benteng mata-mata antara Solo dan Semarang di abad 18. Saat ini tempatnya hanya ditumbuhi rumput dan kurang terawat.

Pemkot Solo sedang giat-giatnya merenovasi tempat ini, agar lebih memiliki nilai historis dan nilai wisata. Tahap pertama adalah melakukan relokasi lapak di sekitar benteng. Terakhir, benteng ini digunakan sebagai lokasi acara kesenian Solo International Ethnic Music (SIEM) yang banyak melibatkan seniman dan musisi dari belahan dunia.

Rasanya ada yang kurang jika Anda belum menyempatkan singgah menjelajahi kawasan cagar budaya dan sejarah kota Solo. Sebab, di samping bisa menambah wawasan tentang kebudayaan di negeri sendiri, kita juga bisa merasakan kebanggaan menjadi bagian dari Nusantara yang kaya budaya dan sejarah. 

0 komentar:

Posting Komentar