#2 Exotic Solo Culinary

Senin, 14 Maret 2011


Berikut ini adalah lanjutan postingan saya mengenai makanan khas Solo tetapi makanan makanan berikut ini cenderung masuk dalam kategori 'agak berat' atau mengenyangkan :

1. Nasi Liwet

Nasi Liwet mungkin adalah makanan khas Kota Solo yang paling terkenal, yang ketenarannya telah menyebar ke segala penjuru, dan sudah masuk menjadi menu di hotel-hotel berbintang di kota-kota besar di Indonesia.

Di Solo sendiri Nasi Liwet sudah sangat membumi, hingga setiap saat dan hampir dimanapun, anda akan dapat menemukan Nasi Liwet dengan mudah. Mulai dari Nasi Liwet yang paling terkenal di Solo, Nasi Liwet Wongso Lemu yang berlokasi di Keprabon (Jalan Teuku Umar) dan Nasi Liwet Yu Sani yang berlokasi di kawasan Solo Baru yang berjualan di malam hari hingga para mBakyu yang berjualan di pagi hari dengan berkeliling diperumahan.

Pada dasarnya Nasi liwet adalah beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam sehingga hasil akhirnya membuat nasi terasa gurih, beraroma dan lezat. Kemudian, nasi tersebut dicampur dengan sayuran jipang (labu siam) yang dimasak pedas, telur pindang rebus, daging ayam yang disuwir, kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan). Sering juga ditambah dengan usus ayam, hati/ampela yang direbus, bacem tahu tempe atau rambak kulit sapi sebagai pelengkap. Penyajiannya pun tidak menggunakan piring, tetapi dengan daun pisang yang dipincuk.

2. Sate Buntel

Sate Buntel adalah sate kambing khas Kota Solo yang lain dari pada yang lain, pokoknya one of a kind lah. Sate Buntel adalah sate yang terbuat dari daging kambing yang dicincang, diberi bumbu bawang dan merica dan kemudian di-buntel (dibungkus) dengan lemak kambing. Sate kambing saja sudah enak, apalagi kalau daging kambingnya dicincang dan dibungkus dengan lemak sebelum dibakar hingga matang di atas bara dan dimakan bersama saus kecap, irisan cabe rawit yang diuleg kasar, bawang merah, irisan kol dan tomat. Lebih nikmat lagi dinikmati bersama acar ketimun...Hm ... Mak Nyos!

Salah satu warung makan penyedia Sate Buntel yang paling terkenal dan paling most wanted di Solo adalah warung Sate Kambing Tambak Segaran, Jalan Sutan Syahrir No 39 (Widuran) yang telah berjualan sejak tahun 1948. Kesuksesan warung sate ini mendorong munculnya banyak warung sate buntel lainnya.

Jika anda penggemar wisata kuliner dan sedang memesan satu porsi sate buntel, perlu diketahui bahwa satu porsi sate buntel tidak berisi 10 tusuk sate seperti sate biasanya. Kenapa? karena ukuran sate buntel ini besar dan satu porsi sate biasanya sudah cukup banyak untuk dimakan berdua. Tetapi ada baiknya anda pastikan dulu besar satenya sebelum memesan, agar tidak kelebihan ataupun kekurangan. 

3. Sate Kere

Satu lagi yang wajib dicoba dan lagi-lagi khas Kota Solo (walaupun daerah lain saat ini ada yang mempunyai makanan dengan nama yang sama dengan konten yang berbeda) adalah Sate Kere.
Seperti halnya soto, hidangan sate sebenarnya bukan makanan khas Solo. Tapi untuk sate enak yang satu ini memang khas Solo. Wajib hukumnya bagi anda untuk mampiri ke warung Sate Kere saat ke Solo. Salah satu warung Sate Kere yang terkenal adalah Warung Yu Rebi di daerah Penumping dekat Stadion Sriwedari (yang ini harganya jauh dari kere) atau di depan TK Marsudirini (hanya ada pagi sampai siang, yang ini harganya lebih murah).
Kenapa disebut Sate Kere? Karena di warung Sate Kere anda akan dapat menjumpai sate tempe gembus (tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu), disamping daging dan jeroan sapi. Namun, biasanya tempe gembus-nya lebih dominan. Karena itu, makanan tersebut kemudian disebut sate kere (satenya orang miskin). Jadi bagi orang yang mengidap penyakit darah tinggi, tak usah menghindar warung ini. Asalkan anda tidak memesan sate jeroan seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, babat, iso daging sapi.
Bumbu perendam tempe embus sama dengan bumbu rendaman bahan jeroan. Sedangkan bumbu untuk menyantapnya adalah sambal kacang, dengan kacang yang tidak begitu banyak sehingga terasa lebih ringan. Dalam sehari warung sate Yu Rebi mampu menghabiskan 30 sampai 50 kg daging dan jeroan. Tak heran, karena pelanggannya bukan berasal dari Solo saja, melainkan dari kota-kota sekitar Solo.


4. Timlo Solo
 

Timlo, bukan Kimlo adalah salah satu makanan khas di Kota Solo. Berbeda dengan makanan sejenis yang dimiliki daerah lain, Timlo Solo tidak mempergunakan soun dan jamur merang. Untuk menikmati rasa Timlo yang khas Solo, anda harus datang ke Timlo Sastro di daerah Balong Pasar Gede atau di cabangnya di Pasar m'Beling dan Timlo Solo di Jl. Urip Sumoharjo. Tempat ini benar-benar jagonya timlo. Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi 'sosis' daging ayam yang dipotong-potong, potongan telur pindang, hati dan ampela ayam.
Timlo Sastro mempunyai cara menghitung pesanan yang unik, pesanan tidak dicatat di atas kertas, melainkan ditulis di atas papan tulis kecil (Sabak) dan baru kemudian harganya dijumlah. Semangkuk Timlo komplit dapat dinikmati hanya dengan mengeluarkan uang Rp 9.000 ,-
Semangkuk Timlo panas, dimakan bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng dan ditemani segelas es jeruk pasti akan membuat anda ingin kembali berulang kali.

5. Pecel Ndeso

Pecel n'Deso yang dimaksud adalah nasi pecel yang nasinya berasal dari beras merah, jenis beras yang kini sulit didapat. Pecelnya, berisikan dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi dan kacang panjang. Sambalnya ada dua pilihan, sambal kacang seperti pecel pada umumnya atau sambal wijen yang memiliki dua pilihan, wijen putih atau hitam. Lauk yang bisa anda pilih disini ada: belut goreng, wader pari yang digoreng tanpa tepung, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot (kelapa dan daun simbukan), otak dan iso goreng. Untuk bisa menikmati pecel ndeso ini silahkan datang ke Manahan pada hari Minggu pagi, banyak warung-warumg lesehan yang menjajakan makanan ini.

6. Cabuk Rambak

Namanya cukup aneh, Cabuk Rambak. Jenis makanan dengan menu utama ketupat ini sangat khas Solo. Istilah khas untuk ketupatnya adalah Gendar Janur, sebab beras yang ditanak untuk dijadikan gendar berada di dalam anyaman janur.
Pada hari-hari biasa, para pedagang cabuk rambak menjajakannya secara berkeliling kampung, tapi saat perayaan Sekaten mereka bisa dijumpai tersebar di halaman Masjid Agung Keraton dalam jumlah puluhan.
Apa sih beda Cabuk Rambak dari ketupat daerah lain? Bisa jadi itu terletak pada bumbu ketupatnya. Ketupat dengan sayur bersantan atau yang dicampur dengan sate ayam barangkali telah umum di beberapa tempat. Tapi, bumbu cabuk rambak itu berbeda. Yakni, wijen yang digoreng bersama santan kelapa, cabai, bawang putih, kemiri, dan gula merah. Itu pula yang menjadi ciri khas penganan itu. Soal cita rasa bumbu seperti itu bagaimana? Tak diragukan lagi. Orang dari wilayah Surakarta sebagian besar menyebutnya bumbu istimewa. Pada tataran yang lebih luas, bumbu serupa itu pula yang menyebabkan banyak orang merasa kangen untuk kembali menikmati, karena ada nilai eksotis atau semacam kelangenan.
Bukan itu saja yang membuat makanan ini jadi istimewa. Karak, sejenis kerupuk dari bahan beras yang menjadi 'suplemen' penganan ini, menjanjikan kenikmatan tersendiri bagi pengudapnya. Orang se-eks Karesidenan Surakarta menyebut rambak untuk penganan yang di beberapa tempat lain disebut kerupuk. Maka, kata rambak pada nama penganan itu memang berasal dari karak yang melengkapi cabuk rambak. Oh ya, untuk menikmatinya kita tidak mempergunakan sendok atau garpu, melainkan mempergunakan lidi.

7. Selat Solo

Kebanyakan orang Solo lebih menyukai menyantap sesuatu yang berkuah sebagaimana kebiasaan mereka sehari-hari makan masakan berkuah. Salah satu bentuk percampuran masakan berkuah asal Barat dengan selera lidah lokal dan menjadi makanan khas di Kota Solo adalah Selat Segar Solo. Makanan ini sering dijadikan hidangan pada saat kondangan, tidak hanya di Solo tapi juga sampai di kota-kota lain.
Racikan Selat solo yang juga merupakan adaptasi dari salad terdiri dari daging yang diiris tipis, ditambah rebusan buncis, kentang, wortel, telur rebus, dan mayones, kemudian disiram kuah kecap encer.
Warung atau rumah makan yang paling direkomendasikan ketika anda ingin mencicipi Selat Solo adalah Warung Selat m'Bak Lies di Serengan, Warung Selat Viens di Pasar Nangka dan Rumah Makan Kusuma Sari di Jalan Slamet Riyadi. 

8.Tengkleng Solo
 

Kalau anda main ke kota Solo, jangan lupa cicipi Tengkleng asli Solo. Apa sih Tengkleng itu? Gule kambing adalah contoh yang paling dekat untuk menggambarkan cita-rasa Tengkleng bagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Yang membedakan tentu saja adalah rasa dan kuahnya. Kuah Gule menggunakan santan kelapa, sementara Tengkleng tidak memakai santan. Jadi lumayan, sumber kolesterolnya berkurang satu!
Selain itu isi Tengkleng adalah tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, diberi sate daging, sate usus, sate jeroan, otak dan bagian organ kambing lainnya yang ikut digulai bersama tulang-tulang, seperti mata, pipi, kuping, dan kandungan (klepon).
Kenikmatan makan Tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang tersisa dari tulangnya atau mengisap-isap isi sumsum tulang.
Tertarik? Datang saja ke Pasar Klewer, di sana ada Ibu Ediyem yang berjualan di lapaknya yang sederhana di samping Gapura Pasar Klewer atau ke warung tengkleng Yu Tentrem di Jl. Letjen Sutoyo, Bibis. Biasanya pembeli duduk di atas bangku kayu berdesak-desakan lalu makan dengan lahap menikmati nasi tengkleng yang disajikan. Karena rasanya yang khas, masakan tengklengnya Ibu Ediyem maupun Yu Tentrem sering dipesan pejabat yang mengadakan acara kantor maupun keluarga.

9. Gudeg Ceker

Pengalaman wisata kuliner di Gudeg Ceker Bu Kusno Margoyudan di Jl. Wolter Monginsidi, Solo benar-benar pengalaman one of a kind. Bukan hanya karena jam bukanya yang ajaib (Gudeg ini baru buka jam 02:00 dini hari), tapi juga dari banyak dan beraneka ragamnya pembeli mulai dari bapak-bapak penarik becak, hingga pejabat dan wisatawan dari daerah lain. Mereka semua tidak berebutan dan marah-marah minta dilayani. Benar-benar pengalaman yang unik, seakan semua orang paham apa yang mereka inginkan sehingga bersikap baik untuk mendapatkannya. Semua itu terjadi hanya untuk satu alasan: Gudeg Ceker.
Di tempat ini, ceker (kaki ayam) menjadi side dish yang dihidangkan bersama dengan gudeg. Ceker dimasak secara gudeg kering dan biasanya setiap pengunjung bisa menghabiskan 10 hingga 20 ceker sekali makan. Jangan heran, ceker yang disajikan disini lunak dan lezat.
Selain dimakan bersama dengan nasi gudeg, pengunjung bisa juga memesan ceker sebagai side dish dari bubur. Nah kalau dimakan dengan bubur, maka akan lebih nikmat kalau disiram dengan kuah sambal goreng krecek. Cocok sekali untuk sarapan dipukul 04:00 pagi!

10. Tahu Kupat

Ketika pertama kali mencoba makanan khas Solo yang satu ini, anda mungkin akan teringat dengan Tahu Gimbal, makanan khas Semarangan. Ya, kedua makanan ini memang mirip.
Satu porsi makanan khas ini terdiri dari ketupat, mi basah, taoge, tahu goreng, bakwan gimbal yang dipotong-potong dan kacang goreng yang disiram dengan bumbu kecap manis encer dengan rasa bawang yang cukup terasa. Disamping campuran standard di atas, anda dapat juga menambahkan isi tahu kupat anda dengan telur dadar.
Warung tahu kupat yang terkenal dan ramai dikunjungi di Solo dapat anda jumpai di Jl. Gajah Mada no 95 (di depan Masjid Solihin) atau di depan Pasar Kadipolo. 

2 komentar:

defarieducation mengatakan...

yummy.. enak banget dech.. palagi nasi liwetnya... kurang satu nich... semar mendem.. zora?? eh.. mbuh denk..

Dian mengatakan...

oke masukan yg bagus, ntr deh aku postingin semar mendem :)

Posting Komentar